Pertengahan tahun 2010 awal mula menjadi mahasiswa Kedokteran Umum di salah satu universitas swasta di Jakarta, Indonesia. Dan merupakan awal perjalanan menempuh pendidikan di tanah air sendiri. Perjalanan SD sampai SMA saya tempuh di luar negeri, yaitu Jeddah, Saudi Arabia karena mengikuti Orang tua yang bekerja di sana.
Pertengahan tahun 2016 saya menyelesaikan studi Kedokteran Umum setelah mengikuti UKMPPD. Pada awal tahun 2017 saya memulai internship di salah satu RS di Jakarta Pusat. Pada awal 2018 saya menyelesaikan internship dan memulai bekerja sebagai Dokter Umum di Jakarta.
Pada tahun yang sama saya mempersiapkan berkas-berkas untuk mendaftar PPDS di luar negeri. Awal perjalanan dikarenakan ingin mencari suasana baru. Setelah beberapa pencaharian panjang, saya memilih untuk melanjutkan pendidikan di Mesir.
Sebagai dokter, tahap awal adalah melewati penyataraan ijazah. Penyataraan ijazah dilakukan di Supreme Council of Universities. Di tempat tersebut akan dilakukan evaluasi sistem pendidikan yang dijalani bisa di setarakan dengan di negara tersebut atau tidak.
Setelah menunggu 2 bulan dan beberapa kali bolak balik karena permintaan berkas-berkas pendukung. Hasil penyataraan dinyatakan diterima di negara tersebut.
Sistem PPDS di negara tersebut terdapat 2 jenis. Sistem Hospital based dan University based. Pada tahap awal sebagai orang asing untuk memudahkan jalan saya daftar sebagai University based. Ini dengan biaya pendidikan yang pada dasarnya sama dengan Master student.
Tahap mendaftar di Universitas juga tidak tergolong mudah karena sistem waiting list atau berdasarkan peminat. Untuk beberapa jurusan seperti kulit, mata, jantung dan beberapa jurusan harus menunggu bertahun-tahun dan berdasarkan nilai dari ijazah dan pasti juga faktor pendukung lainnya.
Pada saat menunggu tahap ini, saya masih berposisi di Indonesia. Setelah dapat panggilan wawancara dan acceptance dari head of departement saya untuk pertama kalinya datang ke Cairo, Mesir.

Untuk berkas dan penyataraan saya dibantu oleh teman yang ada di kota tersebut. Setelah penerimaan, masih harus melewati beberapa tahan untuk dapat acceptance dari beberapa pihak seperti pihak kepala RS, pihak kepala Universitas dan banyak lainnya.
Dalam 2 bulan setelahnya saya memulai residensi saya di Ilmu Penyakit Dalam. Dan saat saya sudah memulai residensi saya bertahap mencoba mendaftar ke hospital based juga.
Setelah menjalani 6 bulan residensi di Universitas. Saya mendapat penerimaan di High Committee of Medical Specialties yang merupakan sistem Hospital based. Saat itu, saya merupakan mahasiwa pertama non Arab paspor yang keterima. Untuk halnya dipermudah karena Ibu saya berpaspor Arab walau bukan paspor mesir. Karena sistem Hospital based mengutamakan dokter berbasis Arab agar tidak terjadi kendala dalam berbahasa dan kultur.

Dalam mengurus berkas saya mendapat pengantar dari bagian High Committee of Medical Specialties. Setelah pendapat acceptance saatnya memilih Rumah Sakit pendidikan yang dituju.
Perbedaan jika Universitas, kita hanya akan berpraktek di Universitas tersebut. Tetapi dalam Hospital based kita dapat memilih untuk apply di Rumah Sakit Pendidikan yang kita inginkan. Dalam pemilihan kita bisa memilih untuk ditempatkan di RS Pendidikan Universitas atau RS training yang tidak berbasis Universitas. Yang menjadi kendala adalah surat pengantar apply yang diberikan tergantung dari kadar kuota kosong ditempat tersebut dan beberapa hal lain juga.
Setelah mendapat RS penempatan kita akan training ditempat tersebut sampai minimal 6 bulan untuk pindah ke RS lain jika kita tidak merasa nyaman di RS tujuan. Dan harus dengan alasan yang jelas untuk resign dan reapply.
Untuk sistem pendidikan tidak ada sistem seangkatan seperti di Indonesia. Sistem dijalankan seperti kerja, dan kita bisa apply ujian part 1 dan seterusnya apabila kita telah memenuhi requirement untuk ujian seperti part 1 harus minimal pengalaman training 6 bulan.
Untuk sistem pendidikan di hospital based sistemnya tidak jauh berbeda dengan UK membangun sistem ST 1 dan seterusnya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar penyakit dalam atau bedah umum kita bisa melanjutkan ke subspecialty atau Fellow yang kita inginkan.
Untuk persyaratan pendaftaran Fellow akan lebih mudah jika kita memulai tahapan pendidikan awal di Mesir, jika tidak akan melalui beberapa tahapan evaluasi terhadap ijazah dan pengalaman yang sebelumnya dan akan dinyatakan lulus atau tidak untuk melanjutkan tahap selanjutnya.
Program Fellowship pada umumnya selama 2-4 tahun tergantung dari subspecialty yang dikehendaki. Dan melalui 3 tahapan ujian untuk mendapatkan gelar. Sistem ujian berupa MCQ, Short Essay Question dan OSCE. Semua tahapan ujian dalam berbahasa inggris dan mayoritas guidelines yang digunakan berdasarkan UK.
Saat ini saya berpraktek di National Heart Institute di Cairo dalam tahap tahun pertama si program Fellowship Jantung dan Pembuluh Darah setelah menyelesaikan pendidikan Ilmu Penyakit Dalam di negara yang sama.
———————————

Nama lengkap : dr. Shafa Machdy Muhamad
Gelar saat ini : internist, on progress cardiology fellowship
Institusi : Nasional Heart Institute
Pendidikan : High Committee of Medical Specialties
