Menkes Idola
Catatan : Iqbal Mochtar
Bagi sebagian orang, ini adalah periode kritis. Banyak yang berharap jadi Menteri. Merekapun berebutan mendekati Prabowo. Berusaha merayu dan bermanis-manis didepan Prabowo. Lucunya, sebagian diantara mereka pernah justru menentang Prabowo, saat Prabowo masih diposisi underdog. Jadi ada yang mau-mau saja menelan ludahnya. Tapi sampai disini, sah-sah saja. Toh namanya orang berusaha.
Jabatan Menkes juga banyak yang lirik. Ini jabatan keren. Jabatan krusial. Apalagi anggarannya cukup gede. Tahun ini anggaran Kementerian Kesehatan lebih Rp 180 triliun. Kalau 5 tahun artinya 5 x Rp 180 triliun = Rp 900 triliun.
Wow…siapa tidak tergiur menjadi orang yang mengatur dana sebesar itu? Jadi kalau banyak yang berusaha mendekati dan merayu Prabowo, ya wajarlah. Money is still money and man is still a man.
Tapi Presiden Prabowo tentu orang cerdas. Ia cerdas dan bukan kaleng-kaleng. Ia tentu tahu siapa yang bermanis-manis didepannya dan siapa yang berkualitas. Ia tentu tahu siapa yang layak jadi Menkes dan membawa negeri ini ke arah perbaikan dan siapa yang hanya ingin tenar dan memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Persoalan kesehatan Indonesia sungguh sangat kompleks. Indonesia menghadapi tantangan serius penyakit menular dan tidak menular. Tuberkulosis, malaria, dan HIV masih menjadi ancaman besar. Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam kasus tuberkulosis.
Kasus malaria meningkat dari 254 ribu menjadi 443 ribu dalam tiga tahun, dan penderita HIV mencapai 540 ribu. Penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, dan kanker juga meningkat, memberikan dampak ekonomi sangat besar besar. Ketimpangan akses kesehatan, terutama di daerah terpencil, serta distribusi tenaga kesehatan masih menjadi masalah.
BPJS Kesehatan, yang melayani 95% populasi, menghadapi tantangan kualitas pelayanan dan tunggakan iuran. Masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan, juga signifikan, dengan prevalensi tengkes 21,4%, jauh dari target 14%.
Pengembangan teknologi kesehatan seperti telemedisin terhambat infrastruktur dan regulasi, sementara keamanan data kesehatan menghadapi risiko kebocoran yang meningkat.
Persoalan-persoalan ini hanya bisa diselesaikan oleh seorang Menteri Kesehatan yang profesional.
Menteri Kesehatan yang memiliki latar belakang kesehatan yang kuat, paham betul seluk-beluk dunia kesehatan, dan mampu mengambil keputusan dengan analisis yang tepat. Bukan Menteri yang suka membuat penilaian terburu-buru atau berdasarkan datanya pada asumsi, gosip, chit-chat dan data yang tidak jelas.
Apalagi yang lebay dan gemar tampil di media dengan informasi yang tidak benar dan spekulatif. Menteri seperti ini akan menjadi beban besar bagi pemerintahan Prabowo karena ia memicu konflik yang tak perlu dan menambah kerumitan dalam menghadapi masalah kesehatan bangsa.
Menteri Kesehatan juga harus bisa mendapatkan dukungan luas dari kalangan tenaga kesehatan, termasuk dari dokter, dokter gigi, perawat dan sebagainya. Karena mereka adalah ujung tombak layanan kesehatan di Indonesia. Mereka yang berhadapan langsung dengan masyarakat, menjalankan program-program kesehatan, dan memastikan semuanya berjalan lancar.
Jika Menteri Kesehatan gagal menjalin hubungan baik atau malah berseteru dengan para profesional ini, maka program kesehatan akan terganggu, dan pemerintahan Prabowo pun terkena dampaknya. Hubungan harmonis dengan tenaga kesehatan adalah kunci keberhasilan dalam menjalankan visi kesehatan nasional.
Menteri Kesehatan harus berpihak pada rakyat, bukan pada kepentingan segelintir elite atau oligarki. Prabowo, dalam banyak kesempatan, selalu menegaskan bahwa dirinya akan berdiri bersama rakyat dan berjuang untuk kesejahteraan mereka.
Sebagai seorang patriot, visi beliau jelas: mengutamakan rakyat di atas segalanya. Maka, Menteri Kesehatan yang dipilih harus sejalan dengan visi tersebut, memprioritaskan kepentingan rakyat, bukan kepentingan oligarki.
Sebanyak 280 juta rakyat Indonesia berharap pada janji perbaikan layanan kesehatan dari Prabowo. Jika menterinya lebih condong pada kepentingan elite, kekecewaan dan rasa pengkhianatan akan meluas di kalangan rakyat.
Apa kesimpulannya? Kalau ada yang nanya, bagaimanakah Menkes idola? Dia adalah Menkes yang profesional, tidak lebay dan tidak main curhat pada media. Ia juga mesti disayangi oleh tenaga profesi kesehatan. Dan ia juga mesti pro-rakyat, bukan pro-oligarki. Sulitkah mencari yang demikian? Rasa-rasanya tidak. Dari 280 juta rakyat Indonesia, pasti banyaklah yang memenuhi kriteria di atas.

