Belajar dari Tragedi Zhang

Oleh Iqbal Mochtar

Pengurus PB IDI dan PP IAKMI. Ketua Kluster Kedokteran dan Kesehatan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional

            Sedih dan kecewa. Itu perasaan yang muncul saat melihat video terkaparnya Zhang Zhie Jie, pemain bulutangkis asal China. Saat bertanding di Asia Junior Championship di Yogya beberapa hari lalu, tiba-tiba ia terhuyung dan kolaps. Sempat kejang beberapa saat. Entah mengalami serangan jantung atau penyakit lainnya. Ironisnya, tim medis baru masuk lapangan dan memberikan bantuan beberapa menit setelah Zhang kolaps. Alasannya, mereka terhalang peraturan Badminton World Federation yang tidak membolehkan masuk lapangan sebelum diizinkan wasit. Sejatinya, ‘beberapa menit’ itu terhitung lama untuk sebuah kasus kolaps yang terlihat (witnessed collapse). Mestinya begitu kolaps, tim medis langsung masuk kelapangan dan memberikan pertolongan adekuat. Ini masalah nyawa. Dalam keadaan kolaps, setiap detik adalah pertarungan nyawa (seconds are life). Zhang dibawa ke rumah sakit yang jaraknya 3,5 km dari lokasi pertandingan. Nadi dan tekanan darahnya tidak terpantau. Ia meninggal. Apapun alasannya, ini contoh kasus kolaps yang tak tertangani adekuat. Padahal kasusnya terjadi pada sebuah even internasional. Indonesia gagal menunjukkan bahwa ia adalah tuan rumah yang peduli keselamatan.

            Banyak cerita tragis dinegeri ini tentang kejadian kolaps yang tidak mendapat pertolongan memadai. Bertebaran kisah tentang orang kolaps dijalanan, dirumah, disekolah maupun ditempat rekreasi tanpa penanganan adekuat. Saat kolaps, sebagian orang justru berkerumum dan menonton. Mungkin kolaps dianggap kejadian jarang, dan karenanya, patut ditonton. Sebagian lagi berinisiatif mencari kendaraan umum atau tumpangan untuk mengantar korban ke rumah sakit. Berkerumun atau menonton saja tanpa memberikan pertolongan tentu tidak etis dan tidak dapat diterima. Mengupayakan kendaraan untuk mengantar korban ke rumah sakit adalah langkah baik namun belum tentu tepat. Ia berpotensi memperlambat pertolongan pertama yang seharusnya segera dilakukan dilapangan.

            Penyebab utama kolaps adalah gangguan jantung berupa serangan jantung dan henti jantung. Magnitudo kolaps ini signifikan. Di Australia, 2% populasi mengalami kolaps akibat gangguan jantung. Bila menggunakan figur ini, diprediksi 5,5 juta penduduk Indonesia berpotensi mengalami kolaps karena gangguan jantung. Penelitian lain bahkan menyebutkan tingkat kejadian lebih tinggi, yaitu 6% dari populasi. Artinya, magnitudo kolaps memang besar dan serius.

Ketika kolaps akibat gangguan jantung terjadi, kecepatan memberikan tindakan menjadi sangat krusial. Setiap satu menit keterlambatan penanganan menurunkan kesempatan hidup (chance of survival) 7-10%. Apalagi bila penanganannya tidak adekuat. Keterlambatan 5 menit saja menyebabkan kesempatan menyelamatkan korban hanya tersisa 50%. Kerusakan otak terjadi dalam 3-5 menit setelah kolaps akibat henti jantung. Makanya, periode kritis ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin bila ingin menyelamatkan korban. Sayangnya, periode krusial ini sering terlewatkan akibat tidak adanya atau tidak adekuatnya pertolongan. Ketika kolaps terjadi dan orang-orang sekitar hanya berkerumun, menonton atau kesana-kemari mencari tumpangan mobil, periode kritis untuk menyelamatkan korban terlewatkan. Padahal saat kolaps, setiap detik adalah pertarungan hidup dan mati.

Banyaknya kejadian kolaps tanpa penanganan adekuat harusnya menggugah kesadaran tentang pentingnya penyebarluasan ketrampilan bantuan hidup dasar (basic life support atau BLS). Semua pihak mesti disadarkan tentang krusialnya pertolongan pertama yang segera dan tepat pada orang kolaps, yang harus dilakukan oleh orang-orang yang menyaksikan. Polisi, tentara, guru, olahragawan, petugas masjid dan anak-anak sekolah mesti dilatih melakukan BLS. Perusahaan-perusahaan harus melatih karyawannya agar bisa memberikan bantuan dasar saat diperlukan. Masyarakat perlu diajar dan dilatih menjadi first responder saat anggota keluarga atau tetangga mereka mengalami kolaps. Mereka mesti dipahamkan bahwa ketika kolaps terjadi, mereka mesti bergerak cepat memberikan pertolongan pertama dilapangan. Bukan berkerumun atau menonton.  Bukan pula membuang waktu kesana-kemari mencari tumpangan.

Di Indonesia, marak dilaksanakan pelatihan-pelatihan. Pelatihan-pelatihan administrasi, pengembangan pribadi dan ketrampilan kreatif diselenggarakan dimana-mana. Namun kapan saatnya pelatihan CPR dimarakkan dan diprioritaskan? Berapa banyak kementerian dan instansi pemerintah yang mewajibkan pelatihan ini bagi stafnya? Berapa banyak sekolah dan universitas yang telah menjadikan pelatihan BLS sebagai bagian kurikulum mereka? Berapa banyak perusahaan yang mewajibkan pekerjanya menjalani pelatihan kegawatdaruratan ini?

BLS mestinya menjadi proyek nasional dan bahkan diimplementasikan sebagai gerakan nasional. Di Norwegia, pelatihan BLS telah masuk dalam kurikulum sekolah-sekolah sejak tahun 1961. Di Jerman, pelatihan BLS sangat masif sehingga 80% penduduk berusia dewasa telah pernah mengikuti pelatihan BLS minimal sekali. Di India, pemerintah menyelenggarakan program nasional pelatihan BLS. Ini mulai diperkenalkan tahun 2023 saat ditemukan peningkatan signifikan kasus henti jantung. Puluhan ribu peserta dari berbagai sektor di India diwajibkan mengikuti program ini. WHO sejak tahun 2015 memang telah merekomendasikan agar pelatihan BLS dimasukkan sebagai kurikulum disekolah-sekolah. 

Sebagai negara berpenduduk terbesar keempat didunia yang risiko kejadian kolaps yang besar, Indonesia mestinya lebih serius menangani issu ini. Indonesia perlu mempertimbangkan secara serius gagasan program nasional BLS. Program ini layak dilaksanakan. Indonesia memiliki infrastruktur luas yang tersebar hingga pelosok, seperti sekolah, universitas dan puskesmas. Ini bisa dijadikan basis program. Tenaga pelatihnya adalah dokter, perawat, tenaga-tenaga kesehatan lainnya dan pekerja organisasi seperti Palang Merah Indonesia. Pendanaan bisa lewat anggaran pemerintah, dana hibah serta kerjasama dengan sektor swasta. Program ini bermanfaat besar bila dijalankan. Angka kematian mendadak bisa berkurang signifikan akibat penanganan cepat dan tepat. Untuk jangka panjang, program ini akan meningkatkan kapabilitas masyarakat menghadapi berbagai keadaan darurat kesehatan yang mungkin akan terjadi. Secara langsung, hal ini memperkuat sistem ketahanan kesehatan masyarakat.

Tragedi Zhang mesti menjadi pembelajaran penting dan starting point bagi Indonesia untuk memasuki era baru penanganan kolaps yang adekuat. Sudah saatnya Indonesia mengambil langkah konkret untuk menghindari tragedi serupa di masa depan dan memastikan bahwa setiap nyawa memiliki kesempatan terbaik untuk diselamatkan.

——————————————————————————————————–

Telah dimuat di ruang Opini harian Jawa Pos tanggal 5 Juli 2024

Tinggalkan Balasan