Berani kotor itu baik, slogan ini mungkin tidak asing bagi kita. Jargon yang dipopulerkan oleh sebuah merk deterjen ternama, apakah sekedar slogan? Berdasarkan penelitian para ahli, ternyata anak yang terlalu bersih atau tinggal dalam lingkungan yang terlalu bersih memiliki risiko lebih tinggi terhadap alergi dan asma.
Anak-anak yang tumbuh di pedesaan, tinggal dalam sebuah keluarga besar dan banyak berinteraksi dengan berbagai hewan memiliki resiko alergi dan asma lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang tinggal di daerah perkotaan dengan lingkungan yang jarang terpajan oleh binatang, mikroba dan berbagai patogen infeksius.
Hal ini sesuai dengan “hygene hypothesis”, patogen dapat menstimulasi sistem imun dan merangsang timbulnya respons imun. Apabila tubuh kita jarang terpajan oleh patogen dan alergen maka sistem imun kita akan mengenali alergen sebagai molekul asing dan menyebabkan over reaksi sistem imun dan berakibat timbulnya reaksi alergi bahkan asma eksaserbasi. Apakah artinya kita harus menurunkan standard kebersihan?
Pandemi Covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan bagi masyarakat di seluruh belahan dunia. Selama pandemi masyarakat dipaksa untuk tidak hanya menjadi lebih “steril” dengan memakai masker, mencuci tangan dengan desinfektan dan menghindari kerumunan. Perubahan pola hidup selama pandemi ternyata juga menyebabkan timbulnya berbagai gangguan kesehatan mental seperti stres, gangguan kecemasan, depresi serta insomnia.
Angka kejadian depresi serta gangguan kecemasan naik lebih dari 25 % selama pandemi. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) merupakan salah satu bentuk gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan obsesi dan atau kompulsi. Seseorang dengan OCD memiliki pikiran dan dorongan yang tidak bisa dikontrol yang sifatnya berulang (obsesi) serta munculnya perilaku paksaan (kompulsif). Kompulsif dapat berupa mencuci tangan berulang kali dan berlebihan karena rasa khawatir yang berlebihan terhadap kuman dan penyakit, membersihkan rumah berulangkali secara berlebihan dan memeriksa sesuatu berulangkali.
Himbuan untuk selalu mencuci tangan dengan desinfektan ternyata tidak hanya menambah kecemasan bagi penderita OCD akan tetapi berhubungan dengan serangan asma. Sebuah penelitian mengaitkan hubungan antara penggunaan desinfektan untuk mencegah penyebaran virus selama pandemi, stress dan serangan asma.
Desinfektan yang direkomendasikan untuk mencuci tangan oleh Centres for Disease Control and Prevention (CDC) mengandung 70% alkohol dan pemutih. Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa penggunaan desinfektan ternyata menyebabkan serangan asma dan hal ini semakin diperparah oleh kecemasan dan depresi selama lockdown. Penderita OCD memiliki kecenderungan repetitif, penggunakan desinfektan secara berlebihan ditambah dengan gangguan kecemasan tentu akan memperparah timbulnya serangan asma, pajanan desinfektan selama kehamilan juga menjadi faktor risiko asma dan eksim pada bayi yang dilahirkan.
Desinfektan mengubah bakteri pada kulit ibu yang dapat mempengaruhi mikrobia usus bayi, sehingga bayi yang dilahirkan lebih rentan terhadap asma. Mencengah asma tidak semudah berhenti memakai desinfektan, memiliki keluarga besar, berinteraksi dengan banyak orang atau pindah ke pedesaan. Melatih sistem imun dimulai di usia muda bahkan saat bayi masih berada dalam kandungan.
Ibu hamil yang terpajan dengan berbagai mikroba serta di vaksinasi dapat melatih sistem imun bayi dan mikrobia di usus, yang paling penting perlu dipahami bagaimana pajanan terhadap bakteri maupun patogen sejak di dalam kandungan dapat mencegah risiko timbulnya asma sehingga dapat ditarik benang merah antara lingkungan yang terlalu bersih, kesehatan mental terutama OCD dan timbulnya serangan asma.
Oleh : dr. Hayatun Naimah, SpP(K), FAPSR
